Kamis, Desember 8, 2022
spot_img

Tragedi Kanjuruhan: Arogansi Bersenjata

Rasanya belum usai kekecewaan masyarakat kepada Polri usai kasus pembunuhan Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J yang melibatkan eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.

Kini, negeri kembali kecewa pada kepolisian yang seyogianya mengayomi masyarakat. Kali ini, ada lebih banyak nyawa yang hilang akibat arogansi bersenjata orang-orang berseragam yang penuh kebanggaan itu.

Belum lagi, pihak-pihak yang mestinya tahu diri kini seolah hanya tahu cara ‘cuci tangan’ dan lari dari tanggung jawab.

Tragedi yang menewaskan 133 orang itu dipertanyakan alasan kematiannya padahal rasanya cukup jelas. Arogansi bersenjata.

Mirisnya, media luar negeri, New York Times menyebut kepolisian Indonesia terlalu termiliterisasi dan kurang terlatih dalam pengendalian massa.

Indonesia’s police force is highly militarized, poorly trained in crowd control, and in nearly all instances, has never been held accountable for missteps, experts say,” tulis New York Times, Selasa (4/10).

Baca Juga:
Tragedi Prestasi di Kanjuruhan dalam tulisan Dahlan Iskan

Sepakbola adalah fanatisme. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan memang banyak bentuk fanatisme yang berujung anarkis. Namun, fanatisme Aremania di Kanjuruhan tidak bisa menjadi alasan untuk kematian massal.

Washington Post menyebut 40 amunisi ditembakkan ke arah massa selama 10 menit. Amunisi tersebut terdiri dari gas air mata, flash bang, dan flare.

Menurut Narasi TV, setidaknya 80 proyektil lebih gas air mata yang dilepaskan pada akhir pertandingan Arema FC melawan Persebaya yang menjadi pemicu banyaknya korban tewas di Stadion Kanjuruhan.

Jika memang penembakan gas air mata ada pada prosedur, harusnya mengarah ke lapangan di mana supporter menginvasi arena. Sayangnya, gas air mata justru memborbardir tribun penonton. Senjata dan tindakan yang lebih dari cukup untuk membunuh 133 orang dalam sekejap. Luar biasa.

Lucunya, Polri mengeklaim bahwa kematian para supporter Arema FC itu bukan karena gas air mata. Hal itu diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo.

“Mengutip pendapat dari Prof. Made Gegel adalah guru besar dari Universitas Udayana. Beliau ahli di bidang toksiologi atau racun. Termasuk dari Prof Massayu Elita bahwa gas air mata dalam skala tinggi pun tidak mematikan,” kata Dedi, Senin (10/10).

Coba kita telaah upaya ‘cuci tangan’ Polri baik-baik. Ahli menyebut gas air mata tidak mematikan. Lalu apa penyebabnya? Logikanya, tidak akan ada kerumunan yang berhamburan menjauhi suatu tempat kalau tidak ada ancaman. Artinya, para penonton itu panik karena adanya serbuan gas air mata.

Dengan begitu, wajar jika banyak yang meninggal dunia akibat kehabisan oksigen, bahkan sampai terinjak-injak. Innalillahi wa Innailaihi raji’unn.

Baca Juga:
Rekonstruksi Kanjuruhan, Polisi di Stadion Ditembakkan Gas Air Mata

Pada akhirnya, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) menegaskan bahwa gas air mata merupakan alasan dari kematian para korban. Kesimpulan itulah yang disampaikan TGIPF kepada Presiden Joko Widodo, Jumat (14/10).

Pendukung tim sepak bola asal Jerman, Bayern Munich bahkan langsung menuding bahwa pihak kepolisian telah membunuh 132 orang di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

“More than 100 people killed by the police,” bunyi spanduk yang terbentang di Allianz Arena saat laga Bayern Munich vs Viktoria Plzen pada laga ketiga Liga Champions, Selasa (4/10).

Rasanya wajar kalau Presiden Jokowi memanggil jajaran kepolisian dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hingga Kapolda dan Kapolres seluruh Indonesia.

Entah apa yang benar-benar mereka bicarakan di Istana Negara, tetapi yang pasti, Jokowi perlu melakukan reformasi Polri. Pada siapa masyarakat berlindung jika polisi justru menjadi pihak yang membunuh orang lain?

Belum rampung kasus Ferdy Sambo dan Kanjuruhan, Jenderal Listyo sepertinya tidak akan tidur nyenyak beberapa malam ke depan. Sebab, Irjen Teddy Minahasa yang baru saja ditunjuk sebagai Kapolda Jawa Timur malah ditangkap karena kasus jual beli narkoba.

* Penulis adalah Direktur Utama LAPMI HMI Cabang Jakarta Selatan

Dukung tim Independensia.id dengan cara traktir agar kami bisa lebih produktif lagi dalam memberikan informasi yang aktual dan faktual.

Setiap kontribusi, berapapun besar atau kecilnya, memperkuat jurnalisme kita dan menopang masa depan kita. Dukung Independensia.id mulai dari Rp 20.000 – hanya butuh satu menit. Jika Anda bisa, pertimbangkan untuk mendukung kami dengan jumlah yang lebih, Terima kasih.

 

Simak berita terkini dan tulisan pilihan di kanal Telegram “Independensia.id” klik link https://t.me/independensiaid_update untuk bergabung.

Bagikan artikel

Komentar

Artikel Terkait

Selengkapnya
spot_img

Terbaru

Pertikaian HMI dan PMII di UINSU Berujung Mediasi

Lima Prinsip dan Norma Undang-undang (UU) Pesantren

Membedah Terpilihnya MN KAHMI yang Didominasi Politisi

Terpopuler