Toleransi Beragama di Indonesia

11

Penulis : Angga Panca Sera (Kader HMI Cabang Jambi)

Kehidupan sosial tidak selalu berjalan mulus dalam keberagaman Indonesia. Selalu ada konflik yang disebabkan oleh emosi antar kelompok. Utopia perdamaian dalam kebhinekaan yang dicita-citakan Pancasila terlihat lebih jauh lagi jika melihat situasi intoleransi di kalangan masyarakat Indonesia.

Indonesia memiliki enam agama negara dan banyak kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh wilayahnya. Populasi agama terbesar di Indonesia adalah lebih dari 229 juta Muslim, yang merupakan 13% dari populasi Muslim dunia. Keberagaman dan ketidaksetaraan jumlah pemeluk agama ini seringkali menjadi penyebab terjadinya perselisihan agama di Indonesia.

Kebebasan beragama dijelaskan dalam banyak pasal salah satunya Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya. Namun pada implementasinya, fakta itu terbalik justru ditemukan di lapangan.

BBC News melaporkan bahwa dalam satu dekade terakhir, setidaknya 200 gereja telah disegel dan ditolak oleh warga. Salah satu portal berita online, Tirto.id, mengatakan hal yang sama. Dalam publikasinya yang berjudul “Kasus Toleransi Terus Tumbuh Selama Pandemi”, banyak praktik intoleransi di kalangan minoritas selama pandemi.

Beberapa insiden yang teridentifikasi sepanjang tahun 2020 antara lain pelecehan terhadap Jemaat Kristen Batak Protestan di kota Serambal saat beribadah pada 13 September. Umat ​​Kristen di Desa Ngastemi dilarang beribadah pada tanggal 21 September sekelompok orang, dan pada tanggal 2 Oktober jemaat Rumah Doa Gereja GSJA Kanada di Kabupaten Nganjuk dilarang beribadah.

Tidak hanya dilarang beribadah, ada juga edaran dari Dinas Pendidikan Negara Kepulauan Banka belitung yang menginstruksikan kepada seluruh siswa SMA/SMK untuk membaca buku Felix Siau Muhammad Alfati 1453. Surat edaran itu akhirnya dibatalkan sehari kemudian, tetapi insiden itu membangkitkan emosi dan menimbulkan pertanyaan di antara banyak pemangku kepentingan.

Dalam retrospeksi, kasus intoleransi beragama bukanlah hal baru, tetapi sudah lama terjadi. Konflik Kristen-Muslim di Poso pada akhir 1990-an, konflik Ambon 1999, dimulai dengan perundungan anak-anak muda Islam terhadap orang-orang Kristen, kemudian menyebarkan kemarahan dan percikan api ke warga Indonesia. Kasus Perpecahan Agama seperti Konflik Tolikara, Gereja Injil menyerang umat Islam yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri di markas Korem di Tolikara, dan hingga Konflik Situbond 1996, aparat keamanan melawan massa Gidi.

Bagaikan gajah yang tak kasat mata, intoleransi dan diskriminasi agama ini bagai angin yang berlalu lalang, meninggalkan pelakunya tanpa pengadilan. Jika kondisi ini berlanjut, ada kekhawatiran bahwa orang mungkin menganggapnya normal. Sebagai warga negara Indonesia, tidak semua kedudukan sederajat dan tidak ada hierarki dalam agama?Narasi-narasi heroik yang bernafaskan kemanusiaan untuk mengutuk perbuatan diskriminatif kini harus digaungkan pula di dalam negeri. Tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun golongan. Mari galakkan toleransi atas dasar rasa prihatin, prihatin pada sesama manusia yang lahir bersama di negeri Indonesia.

Tidak perlu menunggu penegakan hukum yang lebih baik. Dimulai dengan inisiatif masyarakat, diperlukan upaya sekarang. Narasi-narasi heroik yang bernafaskan kemanusiaan untuk mengutuk tindakan diskriminatif kini harus bergema secara nasional. Tanpa memandang suku, agama, atau golongan. Dan merawat sesama manusia yang lahir bersama di Indonesia dan mengedepankan toleransi berdasarkan kepedulian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here