Kamis, Desember 8, 2022
spot_img

Tangan Besi Menteri Agama dalam Pemilihan Rektor Kampus Negeri

independensia.id – Tangan besi Menteri Agama dalam pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta dikeluhkan oleh pengajar UIN bernama Saiful Mujani.

Saiful Mujani protes pemilihan Rektor UIN oleh Menag dituangkan dalam satu utas Twitternya. Utas protes itu dibagikan kepada wartawan, Senin (14/11/2022). Saiful Mujani mendengar kabar pemilihan pemimpin tertinggi di Universitas Islam Negeri Jakarta tak transparan.

“Prosedur pemilihan rektor di UIN atau di bawah Depag pada intinya tidak ditentukan oleh pihak UIN sendiri seperti oleh senat, melainkan oleh Menteri Agama seorang diri. Mau-maunya menteri aja mau milih siapa. UIN dan senat universitas tidak punya suara. Ini seperti lembaga jahiliah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, peran UIN Jakarta dalam pemilihan rektor UIN hanya bertugas melakukan administrasi di awal pemilihan rektor. Nama-nama itu kemudian diserahkan ke Kementerian Agama, lalu diputuskan oleh menteri.

“Pihak senat UIN hanya mencatat siapa yang daftar dan memenuhi syarat. Hasil inventaris senat diserahkan oleh rektor ke Depag untuk diseleksi oleh tim. Tim ini kemudian memilih beberapa nama untuk diajukan ke menteri. Lalu menteri sendiri yang milih,” sesal Saiful.

Menurut Saiful Mujani, akar tangan besi Menteri Agama dalam pemilihan rektor kampus Islam karena adanya Per­aturan Kementerian Agama (PMA) Nomor 68/2015 di ma­na rektor perguruan tinggi ne­ge­ri di bawah Kementerian Aga­ma dipilih, diangkat, dan dite­ta­pkan menteri (Pasal 5-8).

Ber­da­sar PMA itu, Menteri Agama RI punya hak prerogatif 100% mengang­kat dan menetapkan rektor. Sistem ini membuat pemilihan rektor lebih tertutup dan tergantung menteri.

Kebijakan pemilihan rektor UIN ini bertentangan dengan kampus pada umumnya yang dilakukan internal kampus.

“Prosedur pemilihan rektor di UIN atau di bawah Depag pada intinya tidak ditentukan oleh pihak UIN sendiri seperti oleh senat, melainkan oleh Menteri Agama seorang diri. Mau-maunya menteri aja mau milih siapa. UIN dan senat universitas tidak punya suara. Ini seperti lembaga jahiliah,” ujarnya.

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) itu menambahkan sistem pemilihan Rektor UIN Jakarta sebelum ada peraturan Menteri Agama RI dilakukan oleh senat guru besar.

“Sebelum kebijakan cara pemilihan rektor seperti sekarang, rektor UIN/IAIN dipilih oleh senat guru besar, dan telah melahirkan rektor-rektor yang kami hormati, kami cintai, dan kami banggakan seperti almarhum Prof Harun Nasution dan almarhum Prof Azyumardi Azra,” tandasnya.

Dukung tim Independensia.id dengan cara traktir agar kami bisa lebih produktif lagi dalam memberikan informasi yang aktual dan faktual.

Setiap kontribusi, berapapun besar atau kecilnya, memperkuat jurnalisme kita dan menopang masa depan kita. Dukung Independensia.id mulai dari Rp 20.000 – hanya butuh satu menit. Jika Anda bisa, pertimbangkan untuk mendukung kami dengan jumlah yang lebih, Terima kasih.

 

Simak berita terkini dan tulisan pilihan di kanal Telegram “Independensia.id” klik link https://t.me/independensiaid_update untuk bergabung.

Bagikan artikel

Komentar

Artikel Terkait

Selengkapnya
spot_img

Terbaru

Pertikaian HMI dan PMII di UINSU Berujung Mediasi

Lima Prinsip dan Norma Undang-undang (UU) Pesantren

Membedah Terpilihnya MN KAHMI yang Didominasi Politisi

Terpopuler