Kamis, Desember 8, 2022
spot_img

Rapor Merah Kinerja Rektor UIN Jakarta Diberikan Ke Kemenag

Rapor merah kinerja Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, Amany Lubis diberikan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta ke Kemenag RI

Rapor merah ini merupakan catatan atas kinerja Rektor Amany Lubis yang sudah menjabat sejak 2019.

Penyematan rapor merah ini, hasil dari konsolidasi atas kinerja Rektor Amany Lubis yang diselenggarakan oleh Dema UIN Jakarta bersama beberapa elemen mahasiswa UIN Jakarta pada Rabu (16/11/2022).

Ketua Dema UIN Jakarta, Muhammad Abid Al-Akbar, menyampaikan bahwa penyerahan rapor merah ini sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa atas kinerja rektor yang buruk.

“Sudah hampir empat tahun UIN Jakarta dinahkodai oleh Amany Lubis, dalam empat tahun itu pula, banyak degradasi yang nampak pada UIN Jakarta,” katanya.

Lebih spesifik, Abid menambahkan jika UIN Jakarta dibawah kepemimpinan Amany Lubis tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan primer yang layak bagi mahasiswa.

“Kebutuhan primer seperti akses ke kantin (pesenggarahan), kamar mandi, dan masjid yang layak tidak terpenuhi, di mana hati ibu rektor?” tambahnya.

Staf Advokasi dan Kebijakan Publik Dema UIN Jakarta, Zararah Azhim Syah berharap pemberian rapor merah dapat membuka mata dan pikiran pengambilan kebijakan di Kemenag RI

Dalam siaran pers yang dirilis oleh Instagram @demauinjkt.official, Dema UIN Jakarta memberikan delapan poin tuntutan yang membahas seputar transparansi informasi, fasilitas kampus, kinerja rektor, represifitas terhadap mahasiswa, kapitalisasi kampus, sampai pada pengabaian amar putusan MA.

Hasil rapor merah ini diserahkan kepada Kementerian Agama (Kemenag) RI, khususnya dilayangkan ke Menteri Agama dan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI.

“Kemenag perlu mengetahui kebobrokan kinerja Rektor Amany Lubis, agar dapat menjadi evaluasi bagi UIN Jakarta secara khusus, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) secara umum,” tegasnya.

Dikatakan, selama kepemimpinan Amany Lubis, terjadi berbagai peristiwa pembungkaman akademik, maka terlihat jelas bagaimana rektor telah gagal mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.

Proses pembelajaran yang mendorong agar mahasiswa secara aktif mampu mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

“Ada pembungkaman akademik nyata di UIN Jakarta,” tandas Zararah

Dukung tim Independensia.id dengan cara traktir agar kami bisa lebih produktif lagi dalam memberikan informasi yang aktual dan faktual.

Setiap kontribusi, berapapun besar atau kecilnya, memperkuat jurnalisme kita dan menopang masa depan kita. Dukung Independensia.id mulai dari Rp 20.000 – hanya butuh satu menit. Jika Anda bisa, pertimbangkan untuk mendukung kami dengan jumlah yang lebih, Terima kasih.

 

Simak berita terkini dan tulisan pilihan di kanal Telegram “Independensia.id” klik link https://t.me/independensiaid_update untuk bergabung.

Bagikan artikel

Komentar

Artikel Terkait

Selengkapnya
spot_img

Terbaru

Pertikaian HMI dan PMII di UINSU Berujung Mediasi

Lima Prinsip dan Norma Undang-undang (UU) Pesantren

Membedah Terpilihnya MN KAHMI yang Didominasi Politisi

Terpopuler