Kamis, Desember 8, 2022
spot_img

Membedah PMA Nomor 68/2015 tentang Pemilihan Rektor Kampus Islam

independensia.id – Dosen UIN Jakarta Zezen Zaenal Mutaqin pernah membedah PMA Nomor 68/2015 tentang pemilihan rektor kampus Islam di Sindonews.com.

Peraturan Menteri Agama nomor 68 diterbitkan di era kepemimpinan Lukman Hakim Saifuddin.

Lewat PMA nomor 68/2015, rektor perguruan tinggi ne­ge­ri di bawah Kementerian Aga­ma dipilih, diangkat, dan dite­ta­pkan menteri (Pasal 5-8). Menteri Agama punya hak prerogatif 100% mengang­kat dan menetapkan rektor.

Meski tim seleksi me­nen­tu­kan se­se­orang, misalnya, men­teri bisa me­nentukan nama lain di ti­kungan terakhir karena lobi-lobi, tekanan, bahkan an­caman. Ini kasus yang terjadi da­lam pe­milihan rektor UIN Malang dan Jakarta, seti­dak­nya dari in­for­masi yang ber­edar.

Menurut Zezen Zaenal, Depolitisasi kam­pus adalah salah satu alas­an yang disampaikan. Menurut ar­gu­men ini, pemilihan lewat se­nat se­lalu membuat kampus ter­­po­la­risasi antara yang me­nang dan yang kalah. Ke­lan­ju­tannya, yang menang cen­de­rung tidak me­ng­ako­modasi yang kalah.

Meskipun alasan itu me­mi­liki unsur kebenaran, alasan ter­sebut lemah setidaknya di­lihat dari dua hal. Pertama, bu­kankah pemilihan lewat men­teri juga sa­ngat politis? Bahkan lebih po­li­tis karena magnitudo dan wi­layah politisnya semakin le­bar.

Jika dulu para calon rek­tor ha­nya berkonsolidasi di ting­kat se­nat di universitas, se­karang ca­lon rektor, para ang­gota De­wan, pejabat di Ke­men­terian Aga­ma, ormas ke­aga­ma­an tu­rut terlibat dalam lobi-lobi.

Membawa pemilihan rektor ke tangan menteri sama dengan menjerumuskan kampus da­lam kancah politik yang lebih luas. Ujungnya siapa yang pa­ling kuat lobi kepada menteri, pa­ling de­kat dengan menteri, itulah yang paling berpeluang men­jabat.

Jika seseorang satu or­ga­nisasi, satu ormas atau satu partai po­li­tik dengan menteri, peluangnya semakin besar untuk men­jadi rektor.

Alih-alih men­de­politisasi kampus, pe­ng­ang­katan rektor oleh menteri ma­lah men­je­ru­mus­kan kam­pus ke dalam kan­cah spektrum po­litik dan ne­po­tisme yang lebih luas.

Kedua, meski pemilihan se­nat di kampus melibatkan lobi politik di tingkat lokal, se­pen­dek pengetahuan saya, tidak pernah terjadi kasus the winner take s all.

Selalu saja ada sharing and dis­tri­bution of power. Jika yang men­ja­di rektor kelompok kuning, di­pas­tikan kom­po­si­si­nya: dua w­a­kil rektor dari ke­lompok kuning, satu dari ke­lom­pok hitam, dan satu dari ke­lompok pink.

Zezen Zainal menambahkan solusi dari permasalahan ini harus mengembalikan Pemilihan rektor dan dekan oleh senat membuat kekua­sa­an tersebar dan saling me­ngon­trol satu sama lain.

Dalam tulisan Zainal yang membedah PMA nomor 68/2015 disebutkan senat adalah penyeimbang paling baik karena bersifat ko­lektif. Mereka adalah orang-orang yang telah melalui jen­jang karier akademik sampai men­ca­pai posisi guru besar.

Meski ti­dak lepas sepenuhnya dari ke­pen­ti­ngan, mereka ada­lah para senior dan pemimpin kampus dari be­ragam latar be­la­kang ke­il­muan.

Mereka telah melalui pro­ses pan­jang un­tuk mencapai posisi itu. Pemilihan kolektif oleh se­nat yang me­ngerti betul per­so­al­an kampus se­tempat adalah cara paling bijak dan rasional.

Jikapun menteri ingin me­ngambil peran dan porsi dalam pemilihan rektor, juga dengan asas power control, mengambil alih sepenuhnya kewenangan pengangkatan rektor dari we­we­nang senat itu tak lebih dari perampokan kewenangan yang berpotensi terjerumus pada tin­dakan sewenang-wenang. Jika ingin memiliki hak suara, porsi 20% adalah yang paling wajar.

Dukung tim Independensia.id dengan cara traktir agar kami bisa lebih produktif lagi dalam memberikan informasi yang aktual dan faktual.

Setiap kontribusi, berapapun besar atau kecilnya, memperkuat jurnalisme kita dan menopang masa depan kita. Dukung Independensia.id mulai dari Rp 20.000 – hanya butuh satu menit. Jika Anda bisa, pertimbangkan untuk mendukung kami dengan jumlah yang lebih, Terima kasih.

 

Simak berita terkini dan tulisan pilihan di kanal Telegram “Independensia.id” klik link https://t.me/independensiaid_update untuk bergabung.

Bagikan artikel

Komentar

Artikel Terkait

Selengkapnya
spot_img

Terbaru

Pertikaian HMI dan PMII di UINSU Berujung Mediasi

Lima Prinsip dan Norma Undang-undang (UU) Pesantren

Membedah Terpilihnya MN KAHMI yang Didominasi Politisi

Terpopuler